Edukasi Untuk Semua

MAKALAH RESILIENCE (KEPRIBADIAN) MENGENAL LEBIH DALAM MAKNA RESILIENCE



MAKALAH RESILIENCE (KEPRIBADIAN)

 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap manusia terlahir bersih ketika dilahirkan, seperti halnya kertas putih yang nampak bersih tanpa noda. Ketika dilahirkan, kepribadian manusia tidak langsung terbentuk secara signifikan, ada perkembangan dan pengaruh dari lingkungan yang dapat membentuk kepribadian pada setiap individu, tanpa disadari kepribadian banyak terbentuk oleh beberapa faktor. Jika  ia terlahir dari keluarga yang baik-baik belum tentu ketika dewasa mampu berkembang dan berkepribadian seperti orang terdekatnya, karena dalam pembentukan kepribadian banyak hal yang harus diperhatikan, dipelajari dan tentunya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk kita ataupun untuk orang terdekat kita. Kepribadian menjadi ciri khas setiap individu, menjadi kebiasaan, sikap, sifat yang dimiliki seorang yang berkembang,  melekat dan menonjol ketika berhubungan dengan orang lain atau menghadapi suatu keadaan.  Oleh karena itu, perlu adanya pengetahuan mengenai pembelajaran dan  pembentukan kepribadian yang dapat dijadikan panduan oleh setiap individu, orang tua dan guru untuk dapat membentuk kepribadian yang memiliki karakter positif dan siap menghadapi tantangan masa depan.

 

B. Rumusan Masalah

 

1.      Apa pengertian Resilience (Kepribadian)?

2.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi Resilience (Kepribadian)?

3.      Bagaimana kemampuan dasar Resilience (Kepribadian)?

4.      Bagaimana tahap-tahap Resilience (Kepribadian)?

 

C. Tujuan Pembahasan

 

1.      Untuk mengetahui pengertian Resilience (Kepribadian)

2.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Resilience (Kepribadian)

3.      Untuk mengetahui kemampuan dasar Resilience (Kepribadian)

4.      Untuk mengetahu tahap-tahap Resilience (Kepribadian)

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 PEMBAHASAN

A. Pengertian Resilience ( kepribadian)

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi, mengatasi, mencegah, meminimalkan atau menghilangkan dampak-dampak yang merugikan serta mampu untuk bangkit dan pulih kembali dari tekanan, keterpurukan, kesengsaraan atau hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup.

Resiliensi merupakan kemampuan untuk bangkit kembali dari pengalaman negatif yang mencerminkan kualitas bawaan dari individu atau merupakan hasil dari pembelajaran dan pengalaman. Kemampuan resiliensi seseorang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain dukungan eksternal, kekuatan personal yang berkembang pada diri seseorang dan kemampuan sosial.

Resiliensi adalah kemampuan individu untuk segera kembali (to bounce back) dalam menghadapi dan mengatasi situasi yang berisiko dan penuh tekanan melalui pertahanan kompetensi yang dimiliki serta adaptasi yang positif dan fleksibel terhadap perubahan dari pengalaman yang penuh tekanan. Resiliensi membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi–kondisi yang tidak menyenangkan dan tekanan hebat yang inheren sekalipun.

Berikut definisi dan pengertian resiliensi dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Lestari dan Mariyati (2016), resiliensi sebuah kemampuan individu untuk bangkit dari penderitaan, dengan keadaan tersebut mental akan menjadi lebih kuat dan lebih memiliki sumber daya. 
  • Menurut Kalil (2003), resiliensi sebuah kesadaran akan hasil yang baik dalam menghadapi keadaan sulit, kemampuan yang menyokong ketika berada di bawah tekanan, atau penyembuhan dari trauma. 
  • Menurut Grotberg (1995), resiliesi adalah kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup. 
  • Menurut Desmita (2012), resiliensi adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkan untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan, bahkan menghilangkan dampak–dampak yang merugikan dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan. 
  • Menurut Reivich dan Shatte (2002), resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan, beradaptasi terhadap sesuatu yang menekan, mampu mengatasi dan melalui, serta mampu untuk pulih kembali dari keterpurukan.

 

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi Resilience ( kepribadian)

Perkembangan kepribadian individu menurut Freud, dipengauhi oleh kematangan dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Menurut Freud, kematangan adalah pengaruh asli dari dalam diri manusia. Ketegangan dapat timbul karena adanya frustrasi, konflik, dan ancaman. Adapun Upaya mengatasi ketegangan ini dilakukan individu dengan : identifikasi, sublimasi, dan mekanisme pertahanan ego.[1]

Kepribadian seseorang senantiasa berubah dan juga berkembang seiring dengan adanya proses sosialisasi yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang antara lain sebagai berikut.

Menurut Schermerhorn, Hunt, Osborn (2005 : 75-76) mengatakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu :

1.       Herediy (keturunan/bawaan)

yang berkaitan dengan sosok fisik dan jenis kelamin,

2.       Environment (ingkungan)

berkaitan dengan faktor budaya (berkaitan dengan norma-norma yang ada dalam kehidupan keluarga, agama, dan kelompok atau organisasi formal dan non formal), faktor sosial, dan faktor situasi (menekankan pada aspek yang berbeda pada pribadi seseorang). 

Sama halnya dengan Yusuf dan Nurihsan (2008), yang mengatakan atau mengemukakan pendapat bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian yaitu :

1. Faktor Genetik (pembawaan)

Masa dalam kandungan dipandang sebagai saat yang kritis dalam perkembangan kepribadian, sebab tidak hanya sebagai saat pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagai masa pembentukan kemapuankemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran.

2. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan ini dibagi menjadi 3:

1) Keluarga

Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian anak. Alasannya adalah kelurga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak, anak banyak menghabiskan waktunya dilingkungan keluarga dan keluarga merupakan orang yang penting bagi pembentukan kepribadian anak. Disamping itu keluarga juga dipandang dapat memenuhi kebutuhan manusiawi, terutama bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Apabila anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya maka anak cenderung berkembang menjadi pribadi yang sehat. Suasana keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga harmonis dan agamais maka perkembangan anaktersebut cenderung positif.

2) Faktor kebudayaan

Kebudayaan suatu masyarakat memberikan pengaruh terhadap setiap warganya, baik yang menyangkut cara berpikir, cara bersikap atau cara berprilaku. Pengaruh kebudayaan terhadap keperibadian dapat dilihat dari perbedaan masyarakat modern yang budayanya maju dengan masyarakat primitive yang budayanya masih sederhana. Perbedaan itu tampak dalam gaya hidupnya seperti dalam cara makan, berpakaian, memelihara kesehatan, berinteraksi, pencaharian, dan cara berpikir. Linton (1945, cit. Yusuf dan Nurihsan, 2008) mengemukakan ada tiga prinsip tipe dasar kepribadian yaitu pengalaman awal kehidupan dalam keluarga, pola asuh orangtua terhadap anak dan pengalaman awal kehidupan anak dalam masyarakat.

3) Sekolah

Faktor-faktor yang dipandang berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak diantaranya sebagai berikut :[2]

Iklim emosional kelas Ruang kelas dengan guru yang bersikap ramah dan respek terhadap siswa memberikan dampak yang positif bagi perkembangan psikis anak, seperti merasa nyaman, bahagia, mau bekerjasama, termotivasi untuk belajar, dan mau menaati peraturan. Sedangkan ruang kelas dengan guru yang bersikap otoriter dan tidak menghargai siswa berdampak kurang baik bagi anak, seperti merasa tegang, sangat kritis, mudah marah, malas untuk belajar dan berprilaku yang menggangu ketertiban.

Disiplin-disiplin yang otoriter cenderung mengembangkan sifat-sifat pribadi siswa yang tegang, cemas dan antagonistik. Disiplin yang permisif, cenderung membentuk sifat siswa yang kurang bertanggungjawab, kurang menghargai otoritas dan egosentris. Sementara displin yang demokratis, cenderung mengembangkan perasaan berharga, merasa bahagia, perasaan tenang dan sikap bekerjasama.

Adapun menurut Sjarkawi faktor selanjutnya selain faktor genetik dan lingkungan adalah   faktor diri sendri, seperti: tekanan emosional (frustasi yang berkepanjangan), dan identifikasi atau imitasi terhadap orang lain yang berkepribadian menyimpang).

 

C. Kemampuan-Kemampuan Dasar Resilience  

Menurut reivich dan Shatte [3]terdapat tujuh kemampuan yang membentuk resiliensi dan hampir tidak ada satu pun individu yang secara keseluruhan memiliki kemampuan tersebut dengan baik, yaitu sebagai berikut:

a.       Regulasi Emosi

Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah kondisi yang menekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki kemampuan untuk mengatur emosi mengalami kesulitan dalam membangun dan menjaga hubungan dengan orang lain. Semakin kita terisolasi dengan kemarahan maka kita akan semakin menjadi seorang pemarah. [4]

Reivich dan Shatte mengungkapkan dua buah keterampilan yang dapat memudahkan individu untuk melakukan regulasi emosi, yaitu tenang (calming) dan fokus (focusing). Individu yang mampu mengelola kedua keterampilan ini, dapat membantu meredakan emosi yang ada, memfokuskan pikiran-pikiran yang mengganggu dan mengurangi stress yang dialami individu.

b.      Pengendalian impuls

Pengendalian impuls adalah kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan serta tekanan yang muncul dalam diri seseorang. Individu yang memiliki kemampuan pengendalian diri yang rendah, cepat mengalami perubahan emosi yang pada akhirnya mengendalikan pikiran dan perilaku mereka. [5]

 

c.       Optimisme

Individu yang resilien adalah individu yang optimis. Optimisme adalah seseorang melihat bahwa masa depannya cemerlang dan bahagia.

Optimis yang dimiliki oleh seorang individu menandakan bahwa individu tersebut yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengatasi kemalangan yang mungkin terjadi di masa depan. Hal ini juga merefleksikan self efficacy yang dimiliki oleh seorang individu, yaitu kepercayaan individu bahwa ia dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dan mampu mengendalikan hidupnya. [6]

d.      Analisis Penyebab Masalah

Causal analysis adalah kemampuan individu untuk mengidentifikasikan masalah secara akurat dari permasalahan yang dihadapinya. Selingman mengungkapkan sebuah konsep yang berhubungan erat dengan analisis penyebab masalah yaitu gaya berpikir eksplanatory. Gaya berpikir eksplanatory adalah cara yang biasa digunakan individu untuk menjelaskan sesuatu hal itu baik dan buruk yang terjadi pada dirinya. Gaya berpikir dengan metode ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:[7]

1.      Say- bukan saya (personal)

Gaya berpikir “saya” adalah individu yang cenderung menyalahkan diri sendiri atas masalah yang menimpanya. Sedangkan gaya berpikir “bukan saya” adalah menitik beratkan pihak lain yang menjadi penyebab atas kesalahan yang terjadi.

2. Selalu tidak selalu (permanen)

Seseorang yang berpikir “selalu” berasumsi bahwa ketika terjadi kegagalan maka akan timbul kegagalan berikutnya yang menyertainya. Individu tersebut akan selalu merasa pesimis.

Sedangkan individu yang optimis, cenderung memandang kegagalan dari sisi positif dan berusaha melakukan yang lebih baik dalam setiap kesempatan.

3. Semua tidak semua (pervasive)

Gaya berpikir “semua” memandang kegagalan pada sisi kehidupan akan menjadi penyebab kegagalan pada sisi kehidupan yang lain.

Sedangkan gaya berpikir “tidak semua” mampu menjelaskan penyebab dari suatu masalah yang ia hadapi.

Menurut Revich, K., & Shatte, A. Individu yang resilien tidak akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat demi menjaga self-esteem mereka atau membebaskan mereka dari rasa bersalah. Mereka tidak terlalu terfokus pada faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka, sebaliknya mereka memfokuskan dan memegang kendali penuh pada pemecahan masalah, perlahan mereka mulai mengatasi permasalahan yang ada, mengarahkan hidup mereka, bangkit dan meraih kesuksesan. [8]

e.       Empati

Empati mengaitkan bagaimana individu mampu membaca tanda-tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain. Beberapa individu memiliki kemampuan dalam menginterpretasikan bahasa-bahasa non verbal yang ditunjukkan oleh orang lain, seperti ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh dan menangkap apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain.

Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang positif. Sedangkan individu dengan empati yang rendah cenderung mengulang pola yang dilakukan oleh individu yang tidak resilien, yaitu menyamaratakan semua keinginan dan emosi orang lain.

f.        Efikasi Diri

Efikasi diri  adalah sebuah keyakinan bahwa individu mampu memecahkan dan menghadapi masalah yang dialami secara efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu, berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri yang tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak menyerah.

ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakannya itu tidak berhasil. Efikasi diri adalah hasil pemecahan masalah yang berhasil sehingga seiring dengan individu membangun keberhasilan sedikit demi sedikit dalam menghadapi masalah, maka efikasi diri tersebut akan terus meningkat. Sehingga hal tersebut menjadi sangat penting untuk mencapai resiliensi. [9]

g.      Reaching out

Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa resiliensi bukan hanya seorang individu yang memiliki kemampuan untuk mengatasi kemalangan dan bangkit dari keterpurukan, namun lebih dari itu resiliensi juga merupakan kapasitas individu meraih aspek positif dari sebuah keterpurukan yang terjadi dalam.[10]

 

D. Tahapan Resilience  

Menurut Coulson (2006), terdapat empat tahapan yang terjadi ketika seseorang mengalami situasi dari kondisi yang menekan (significant adversity) sebelum akhirnya terjadi resiliensi, yaitu sebagai berikut:

a. Mengalah 

Mengalah adalah kondisi yang menurun dimana individu mengalah atau menyerah setelah menghadapi suatu ancaman atau keadaan yang menekan. Level ini merupakan kondisi ketika individu menemukan atau mengalami kemalangan yang terlalu berat bagi mereka. Outcome dari individu yang berada pada level ini berpotensi mengalami depresi, narkoba dan pada tataran ekstrem bisa sampai bunuh diri.

b. Bertahan (survival) 

Pada tahapan ini individu tidak dapat meraih atau mengembalikan fungsi psikologis dan emosi positif setelah dari kondisi yang menekan. Efek dari pengalaman yang menekan membuat individu gagal untuk kembali berfungsi secara wajar.

c. Pemulihan (Recovery) 

Recovery adalah kondisi ketika individu mampu pulih kembali pada fungsi psikologis dan emosi secara wajar dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang menekan, walaupun masih menyisihkan efek dari perasaan negatif yang dialaminya. Dengan begitu, individu dapat kembali beraktivitas untuk menjalani kehidupan sehari-harinya, mereka juga mampu menunjukkan diri mereka sebagai individu yang resilien.

d. Berkembang Pesat (Thriving) 

Pada tahapan ini, individu tidak hanya mampu kembali pada tahapan fungsi sebelumnya, namun mereka mampu melampaui level ini pada beberapa respek. Pengalaman yang dialami individu menjadikan mereka mampu menghadapi dan mengatasi kondisi yang menekan, bahkan menantang hidup untuk membuat individu menjadi lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi, mengatasi, mencegah, meminimalkan atau menghilangkan dampak-dampak yang merugikan serta mampu untuk bangkit dan pulih kembali dari tekanan, keterpurukan, kesengsaraan atau hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup. Sedangkan Menurut Lestari dan Mariyati (2016), resiliensi sebuah kemampuan individu untuk bangkit dari penderitaan, dengan keadaan tersebut mental akan menjadi lebih kuat dan lebih memiliki sumber daya.

Menurut Schermerhorn, Hunt, Osborn (2005 : 75-76) mengatakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu : Herediy (keturunan/bawaan)  dan Environment (ingkungan)

Menurut reivich dan Shatte terdapat tujuh kemampuan yang membentuk resiliensi dan hampir tidak ada satu pun individu yang secara keseluruhan memiliki kemampuan tersebut dengan baik, yaitu sebagai berikut: Regulasi Emosi, Pengendalian impuls, Optimisme, Empati, Efikasi Diri, Reaching out dan Analisis Penyebab Masalah.

Adapun beberapa tahapan Resilience (Kepribadian) Menurut Coulson (2006), terdapat empat tahapan yang terjadi ketika seseorang mengalami situasi dari kondisi yang menekan (significant adversity) sebelum akhirnya terjadi resiliensi, yaitu sebagai berikut: Mengalah, Bertahan (survival), Pemulihan (Recovery),  Berkembang Pesat (Thriving).

 

B. Saran

Makalah kami ini masih jauh dari kata sempurna untuk itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca  sekalian sangat kami harapakan demi tercapainya kesempurnaan dari makalah kami ini kedepannya.



[1] Maropen Simbolon, "Persepsi dan Kepribadian", Ekonomis: Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 2, No. 1 (Maret, 2008), 64.

 

[2] Maya Rosiyana, "Pengaruh Teman Sebaya", FKIP UMP, 2016, hal. 12.

 

[3] Revich, K., & Shatte, A. 2002. The resilience factor: seven essential skill for overcoming life’s inevitable obstacle. New York: Random House. h., 36

[4] Revich, K., & Shatte, A. 2002. The resilience factor: seven essential skill for overcoming life’s inevitable obstacle. New York: Random House. h., 36-37

[5] Revich, K., & Shatte, A. 2002. The resilience factor: seven essential skill for overcoming life’s inevitable obstacle. New York: Random House. h., 38

[6] Revich, K., & Shatte, A. 2002. The resilience factor: seven essential skill for overcoming life’s inevitable obstacle. New York: Random House. h., 40-41

[7] Revich, K., & Shatte, A. 2002. The resilience factor: seven essential skill for overcoming life’s inevitable obstacle. New York: Random House. h., 42

[8] Revich, K., & Shatte, A. 2002. The resilience factor: seven essential skill for overcoming life’s inevitable obstacle. New York: Random House. h., 43

[9] Revich, K., & Shatte, A. 2002. The resilience factor: seven essential skill for overcoming life’s inevitable obstacle. New York: Random House. h., 44

[10] Revich, K., & Shatte, A. 2002. The resilience factor: seven essential skill for overcoming life’s inevitable obstacle. New York: Random House. h., 45


Tag : Edukasi
0 Komentar untuk "MAKALAH RESILIENCE (KEPRIBADIAN) MENGENAL LEBIH DALAM MAKNA RESILIENCE"

Back To Top