Edukasi Untuk Semua

PENGERTIAN MAKALAH PENGAWASAN DALAM MANAGEMENT



MAKALAH PENGAWASAN

ENTREPRENEURSHIP

A. HAKIKAT PENGAWASAN 

1. Definisi Pengawasan 

Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja dengan standar, rencana, atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia dan sumber daya perusahaan lainnya digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai tujuan perusahaan. Menurut Robert J.Mockler pengawasan yaitu usaha sistematik menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan dan mengukur deviasi-deviasi dan mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa semua sumber daya yang telah dipergunakan dengan efektif dan efisien. 

Pada dasarnya rencana dan pelaksanaan merupakan satu kesatuan tindakan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pengawasan diperlukan untuk melihat sejauh mana basil tercapai. Menurut Murdick secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi. Proses dasarnya terdiri dari tiga tahap (a) menetapkan standar pelaksanaan, (b) pengukuran pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar, dan (c) menentukan kesenjangan (deviasi) antara pelaksanaan dengan standar dan rencana (Nanang Fattah, 2004:101). George. R. Terry (1986:395) mendefinisikan tindakan pengawasan berarti determinasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja apabila perlu, menerapkan tindakan-tindakan korektif sehingga hasil untuk menemukan, mengoreksi penyimpangan-penyimpangan penting dari hasil yang dicapai dari aktivitas-aktivitas yang direncanakan. Tujuan pengawasan adalah mengusahakan terjadinya hal-hal tertentu, maksudnya: mencapai satuan dalam batas-batas penghalang atau melalui aktivitas-aktivitas yang direncanakan. pengawasan merupakan proses dasar yang di rencanakan. 


2. Fungsi pengawasan 

Pengawasan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan; merekam, memberi penjelasan, petunjuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat; serta memperbaiki kesalahan. Pengawasan, merupakan kunci keberhasilan manajemen perlu dilihat secara komprehensif, terpadu, dan tidak terbatas pada hal-hal tertentu. (E. Mulyasa, 2004:21). 

Secara dalam keseluruhan proses Uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengawasan merupakan tindakan-tindakan perbaikan dalam pelaksanaan kerja agar segala kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, petunjuk-petunjuk dan instruksi, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Perbaikan merupakan tindakan lanjutan dari penilaian, dalam lembaga pendidikan bisa menggunakan evaluasi. Sedangkan evaluasi itu sendiri adalah pembuatan pertimbangan menurut suatu perangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurut TR Morison (Abdjul, 1982) ada tiga faktor penting dalam konsep evaluasi, yaitu: pertimbangan (judgement), deskripsi obyek penilaian, dan kriteria yang tertanggung jawab (defensi ble criteria)


B. PROSES PENGAWASAN 

Proses pengawasan terdiri dari empat tahap: 

1. Menetapkan Standar-Standar Pekerjaan 

Penentuan standar mencakup kriteria untuk semua lapisan pekerjaan (job performance) yang terdapat dalam suatu organisasi. Standar ialah kriteria-kriteria untuk mengukur pelaksanaan pekerjaan. Kriteria tersebut dapat dalam bentuk kuantitatif ataupun kualitatif. Standar pelaksanaan (standar performance) ialah suatu pernyataan mengenai kondisi-kondisi yang terjadi bila suatu pekerjaan dikerjakan memuaskan. Umunya standar pelaksanaan pekerjaan bagi suatu aktivitas menyangkut kriteria: ongkos, waktu, kuantitas, dan kualitas. Dengan mengadtasi karya Koonts dan O. Donel, Mudrick mengemukakan lima ukuran kritis sebagai standar: (a) fisik, (b) ongkos, (d) program, (e) pendapatan, dan (f) standar yang tak dapat diraba (intangible).


2. Mengukur Prestasi Kerja 

Tahap ke dua dari proses pengawasan adalah pengukuran hasil/ pelaksanaan. Metode dan teknik koreksinya dapat dilihat/dijelaskan klasifikasi fungsi-fungsi manajemen: 

Perencanaan: garis umpan balik proses manajemen dapat berwujud meninjau kembali rencana mengubah tujuan atau mengubah standar. 

Pengorganisasian: memeriksa apakah struktur organisasi sesuai dengan standar, apakah tugas dan kewajiban telah dimengerti dengan baik, dan apakah diperlukan penataan kembali 

Penataan staf: memperbaiki sistem seleksi, memperbaiki sistem latihan, dan menata kembali tugas-tugas. 

Pengarahan: mengembangkan kepemimpinan yang lebih baik, meningkatkan motivasi, menjelaskan pekerjaan yang sukses, penyadaran akan tujuan yang secara keseluruhan apakah kerjasama antar pimpinan dan anak buah berada dalam standar. 

Orang-orang. Perihal pengukuran Kinerja Sebelum wirausahawan menentukan apa yang harus dilakukan untuk membuat organisasi lebih efektif dan efisien, mereka harus mengukur kinerja organisasional yang sedang berjalan. Sebelum pengukuran demikian bisa dilakukan, beberapa unit ukuran yang mengukur kinerja harus ditetapkan dan kuantitas unit yang dihasilkan oleh bagian-bagian yang kinerjanya sedang diukur ini harus di observasi. 

Wirausahawan harus senantiasa mengingat bahwa banyak aktivitas-aktivitas organisasional yang bisa diukur sebagai bagian dari proses pengawasan. Contoh, proses produksi, jumlah dan tipe persediaan yang ada umumnya diukur untuk mengawasi persediaan, dan kualitas barang dan jasa yang dihasilkan umumnya diukur untuk mengawasi kualitas produksi. Disamping itu, pengukuran kinerja tersebut bisa berhubungan dengan pengaruh produksi. 


3. Menyesuaikan Prestasi kerja dengan Standar 

Melaksanakan tugasnya maka akan Setelah para anggota organisasi diperoleh hasil atas kegiatannya. Kemudian, hasil yang dicapai para anggota organisasi tersebut dibandingkan dengan standar yang ditetapkan. Oleh karena itu, langkah ini merupakan langkah yang termudah dilakukan dalam proses pengawasan yaitu dengan hanya membandingkan antara hasil yang dicapai para anggota organisasi dalam memaksakan tugasnya dengan standar. Walaupun dikatakan pada langkah ini yang termudah, akan tetapi membutuhkan berbagai metode dan analisis yang rumit dalam menghitung perbedaannya. Menyesuaikan Prestasi adalah membandingkan kinerja yang diukur dengan standar Sekali wirausahawan melakukan pengukuran kinerja organisasional,

Pada hakikatnya, standar adalah "ukuran" yang menentukan apakah kinerja organisasional memadai atau tidak memadai. Standar-standar yang dipakai biasanya mengikuti delapan bidang dalam kewirausahaan: 

1) Standar profitabilitas 

2) Standar posisi pasar 

3) Standar produktivitas 

4) Standar kepemimpinan produk 

5) Standar perkembangan personalia 

6) Standar sikap karyawan 

7) Standar tanggung jawab kemasyarakatan 

8) Standar yang mencerminkan keseimbangan relatif antara tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang 


4. Mengambil Tindakan Korektif 

Setelah membandingkan antara hasil yang dicapai para anggotanya organisasi dengan standar, maka akan ditemukan dua kemungkinan sesuai atau tidak dengan yang direncanakan. Apabila hasil yang dicapai tidak sesuai dengan standar, maka akan dilakukan tindakan korektif. Tindakan korektif ini dapat dilakukan untuk memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan. Termasuk pada tindakan korektif ini adalah perubahan terhadap suatu atau beberapa kegiatan organisasi.

Tindakan korektif ini dapat dilakukan dengan melakukan perubahan atas standar yang ditetapkan. Hal ini dilakukan karena adanya kemungkinan kesalahan dalam menganalisis pekerjaan, sehingga menimbulkan kesalahan dalam menetapkan standar kerja. Perubahan juga dapat dilakukan pengukuran prestasi kerja, hal ini perlu dilakukan dengan penyesuaian kemampuan setiap individu atau kelompok dalam mengerjakan pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya. Kemudian, tindakan korektif perlu dilakukan dengan mengubah cara dalam menghasilkan dalam menghitung perbedaan-perbedaan antara hasil yang dicapai dengan standar. 

Mengambil tindakan koreksi; Sekali wirausahawan telah mengukur kinerja aktual dan membandingkan kinerja ini dengan standar kinerja yang telah ditetapkan, mereka harus mengambil tindakan koreksi jika perlu. Tindakan koreksi adalah aktivitas manajerial yang ditujukan untuk membawa kinerja organisasional pada tingkat kinerja standar. Sebelum mengambil tindakan koreksi, wirausahawan hendaknya merasa yakin bahwa standar yang digunakan tersebut ditetapkan dengan semestinya dan pengukuran kinerja organisasional tersebut valid dan bisa dipercaya. Untuk lebih jelasnya Proses Pengawasan sebagaimana dilukiskan dengan bagan dibawah:

Langkah-langkah Dasar Proses Pengawasan 

Sumber: Wilson Bangun, Intisari Manajemen, (2008:106) Pada pelaksanaannya proses pengawasan manajemen meliputi: (1) pra- pengawasan, (2) pengawasan yang bersamaan (concurrent), dan (3) pengawasan umpan balik., tiap-tiap jenis terutama ditentukan oleh periode waktu dimana pengawasan ditekankan dalam hubungannya dengan kerja yang dilaksanakan. 


1) Pra-pengawasan; Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan dinamakan pra-pengawasan atau pengawasan kedepan (feed-forward control). Pra-pengawasan mengidentifikasi penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan dan yang dihasilkan sebelum penyimpangan tersebut terjadi. Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur, dan aturan-aturan yang ditujukan pada perilaku yang menghasilkan kinerja yang tidak diinginkan dimasa depan. 

2) Pengawasan yang bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan; Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan sedang dilaksanakan dinamakan Pengawasan concurrent tidak hanya berhubungan dengan kinerja kemanusiaan saja tetapi juga pada bidang-bidang seperti kinerja peralatan-peralatan atau penampakan departemen. Contoh, sebagian besar toko grosir mempunyai aturan ketat mengenai stok yang harus ditempatkan pada lantai penjualan. Pada umumnya, pada rak-rak, dengan tanpa "lubang stok" atau ruangan kosong. pengawasan "concurrent". toko grosir yang ada ingin meletakkan sejumlah besar produk 

3) Pengawasan Umpan Balik; Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional dimasa lalu dinamakan pengawasan umpan balik. Ketika menggunakan tipe pengawasan ini, wirausahawan sesungguhnya berusaha untuk mengambil tindakan koreksi dalam organisasi dengan melihat pada sejarah organisasional selama periode waktu tertentu. Sejarah ini bisa dipusatkan pada hanya satu faktor, seperti tingkat persediaan, atau pada hubungan antara banyak faktor, seperti pendapatan bersih sebelum pajak, volume penjualan, dan biaya-biaya pemasaran. 


C. PENGAWAS DAN PENGAWASAN 

Bagan organisasional yang dikembangkan untuk perusahaan-perusahaan berukuran menengah dan besar biasanya berisi sebuah posisi yang dinamakan pengawas (controller)


a. Pekerjaan dari Pengawas 

Wirausahawan mempunyai tanggung jawab untuk membandingkan kinerja yang direncanakan dengan yang sesungguhnya dan mengambil tindakan bila dipandang perlu. Pada organisasi yang lebih kecil, wirausahawan mungkin sepenuhnya bertanggung jawab di dalam mengumpulkan informasi mengenai berbagai aspek organisasi dan pengembangan laporan yang perlu didasarkan pada informasi ini. Akan tetapi, pada perusahaan menengah dan besar terdapat individu-individu yang dinamakan pengawas. Tanggung jawab dasar dari pengawas adalah membantu manajer lini dengan fungsi pengawasan dengan mengumpulkan informasi yang sesuai dan menghasilkan laporan-laporan yang mencerminkan informasi ini. 


b. Berapa Banyak Pengawasan yang Diperlukan? 

Seperti halnya dengan semua upaya organisasional, aktivitas-aktivitas pengawasan hendaknya dilakukan jika manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan aktivitas- aktivitas tersebut lebih besar dari biaya pelaksanaannya. Proses membandingkan biaya-biaya dari aktivitas-aktivitas organisasional dengan manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan aktivitas-aktivitas tersebut dinamakan analisa biaya-manfaat. Pada umumnya, wirausahawan dan pengawas hendaknya bekerja sama untuk menentukan dengan tepat berapa banyak aktivitas pengawasan dibenarkan dalam situasi tertentu. 


Tipe-tipe Dasar Pengawasan 

William H. Hewman (1978), membagi pengawasan dalam tiga tipe dasar (three basic tipec of control), yaitu yang disebut: Steering control, Yes-no control, dan Post- action controls.

 

a) Steering control, ialah pengawasan yang dilakukan pada saat pekerjaan sedang berlansung, dengan tujuan utamanya untuk membuat evaluasi dan perkiraan tentang hasil akhir yang akan dicapai untuk dapat mengambil tindakan korektif yang tepat sebelum pekerjaan selesai seluruhnya. Sudah barang tentu dengan maksud agar hasil pekerjaan sesuai dengan yang dikehendaki atau yang telah direncanakan. 

b) Yes-no control, adalah suatu pengawasan yang bersifat pengujian (screening test) Dalam manajemen apakah suatu pekerjaan boleh dilanjutkan atau tidak. Pemerintahan Indonesia, tampaknya pengawasan semacam ini belum banyak dilaksanakan. Pengawasan ini lebih banyak dilakukan oleh Perusahaan- perusahaan, terutama perusahaan prodiksi. Sebenarnya dalam pelaksanaan Proyek-proyek vital, yes-no controls ini mutlak perlu dilaksanakan, terutama untuk menguji apakah bahan-bahan yang akan dipergunakan benar-benar sesuai dengan yang telah ditentukan dalam RKS (Rencana Kerja dan Syarat- syarat) Pekerjaan. Dalam proyek-proyek pembangunan pemerintah, yes-no controls ini merupakan tugas utama dari pengawas lapangan yang menang masih berada pada titik lemah dalam manajemen pembangunan Indonesia dewasa ini (Sujatmo, 1986:83). 

c) Post-action controls, adalah pengawasan terhadap pekerjaan yang telah selesai dikerjakan dengan jalan membandingkan hasil pekerjaan yang terhadap standar pengawasan atau tolok ukur yang telah ditetapkan. Apa yang dilakukan oleh perangkat-perangkat pengawasan di Indonesia pada umumnya adalah termasuk pengawasan jenis ini. Meskipun ada kalanya petugas pengawasan datang dan melakukan pemeriksaan pada saat pekerjaan tengah berlangsung jadi masih ada bagian pekerjaan yang belum selesai, tetapi sering kali sifat pengawasan yang dilakukan adalah post-action controls. 


Kontrol adalah membuat sesuatu terjadi seperti yang direncanakan untuk terjadi. Seperti yang dinyatakan secara tidak langsung dari definisi ini, perencanaan dan kontrol sesungguhnya tidak bisa dipisahkan. Hubungan yang umumnya ada antara penyelia dan karyawan bagian produksi menggambarkan bagaimana proses pengawasan terjadi dalam organisasi. Karyawan bagian produksi umumnya mempunyai tujuan tingkat produksi yang harus dicapai dalam satu hari atau satu minggu. Pada akhir tiap- tiap hari kerja jumlah unit yang dihasilkan oleh tiap karyawan dicatat sehingga tingkat produksi mingguan bisa ditentukan. Jika tingkat produksi mingguan dibawah tingkat produksi yang ditetapkan, penyelia harus mengambil tindakan untuk menjamin bahwa tingkat produksi aktual sama dengan tingkat produksi yang direncanakan.


D. KEKUASAAN PENGAWASAN

Kekuasaan dan pengawasan saling berhubungan erat. Untuk menggambarkan hal ini, sesudah wirausahawan membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang direncanakan nya dan menentukan tindakan koreksi yang diperlukan, perintah perintah biasanya diberikan untuk mengimplementasikan tindakan ini. Walaupun perintah tersebut dikeluarkan oleh wirausahawan dengan menggunakan wewenang organisasional, perintah-perintah mereka mungkin diikuti atau tidak dikuti sepenuhnya, tergantung berapa banyak kekuasaan yang dimiliki oleh wirausahawan terhadap individu-individu dimana mereka memberikan perintah.

1. Kekuasaan Total dari Seorang Wirausahawan

Kekuasaan total yang dimiliki oleh seorang wirausahawan terbentuk dari dua jenis kekuasaan yang berbeda: kekuasaan posisi dan kekuasaan pribadi. Pertama; Kekuasaan posisi adalah kekuasaan yang berasal posisi organisasional yang dipegang oleh wirausahawan. Pada umumnya ketika seorang manajer bergerak dari tingkatan bawah menuju tingkatan puncak dari manajemen semakin banyak kekuatan posisi yang dimiliki seorang wirausahawan akan semakin besar. Kedua, Kekuasaan pribadi adalah kekuasaan berasal dari hubungan kemanusiaan wirausahawan dengan yang lainnya. 

2. Langkah-langkah untuk Meningkatkan Kekuasaan Total

Wirausahawan bisa meningkatkan  kekuatan total mereka dengan meningkatkan kekuasaan posisi (position power) dan/atau kekuasaan pribadi (personal power)mereka. Walaupun kekuasaan posisi bisa ditingkatkan dengan mencapai posisi organisasional yang lebih tinggi, wirausahawan mungkin mempunyai kontrol pribadi yang kecil ketika bergerak ke puncak organisasi. Sebaliknya, wirausahawan mempunyai kontrol pribadi yang cukup besar atas jumlah kekuasaan pribadi yang mereka pegang atas anggota organisasi lainnya.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh wirausahawan untuk meningkatkan kekuasaan pribadi. Dalam hal ini wirausahawan bisa berusaha untuk mengembangkan:

a. Rasa berkewajiban pada anggota organisasi lainnya yang diarahkan pada dirinya sendiri

b. Kepercayaan pada anggota-anggota organisasi lainnya bahwa dia memiliki tingkat keahlian yang lebih tinggi dalam organisasi

c. Rasa identifikasi (sense of identification) yang dimiliki oleh anggota-anggota organisasi lainnya dengan wirausahawan. 

d. Persepsi pada Anggota organisasi lainnya bahwa mereka bergantung pada dia sebagai wirausahawan. 


E. PELAKSANAAN FUNGSI-FUNGSI PENGAWASAN 

Pengawasan bisa merupakan proses yang sangat rumit dan mendetail. Proses int biasanya menjadi semakin mendetail dan rumit ketika ukuran organisasi semakin besar

1. Hambatan-hambatan Potensial bagi Pengawasan yang Berhasil

Wirausahawan hendaknya mengambil langkah-langkah untuk menghindari hambatan potensial bagi pengawasan yang berhasil berikut ini: 

1) Aktivitas-aktivitas pengawasan bisa menciptakan penekanan berlebihan yang tidak diharapkan pada produksi dalam jangka pendek dan bukannya produksi dalam jangka panjang.

2) Aktivitas-aktivitas pengawasan bisa menimbulkan frustrasi karyawan terhadap pekerjaannya yang semakin meningkat dan karenanya akan mengurangi moral mereka

3) Aktivitas-aktivitas pengawasan bisa mendorong pemalsuan laporan-laporan

4) Aktivitas-aktivitas pengawasan bisa menyebabkan perspektif anggota-anggota organisasi menjadi sempit berkenaan dengan kebaikan organisasi

5) Aktivitas-aktivitas pengawasan bisa dirasakan sebagai tujuan dari proses pengawasan dan bukannya sebagai alat untuk mengambil tindakan koreksi. 

2. Membuat Pengawasan Berhasil 

Untuk menghindari kendala potensial bagi pengawasan yang berhasil, wirausahawan bisa melaksanakan aktivitas-aktivitas tertentu untuk membuat proses pengawasan mereka menjadi lebih efektif. Untuk itu, wirausahawan harus yakin bahwa:

1) Berbagai faset dan proses pengawasan adalah sesuai dengan aktivitas organisasional tertentu yang difokuskan.

2) Aktivitas-aktivitas pengawasan digunakan untuk mencapai jenis tujuan yang berbeda

3) Informasi digunakan untuk mengambil tindakan koreksi adalah tepat pada waktu nya

4) Mekanisme proses pengawasan bisa dimengerti oleh semua individu-individu yang ikut terlibat dengan implementasi proses.


3. Pengawasan dalam Kewirausahaan

Alat-alat pengawasan adalah prosedur atau teknik tertentu yang menyajikan informasi organisasional yang berhubungan sedemikian rupa sehingga wirausahawan akan dibantu didalam mengembangkan dan mengimplementasikan strategi pengawasan organisasional yang sesuai.

4. Manajemen Pengecualian (management by exception) 

Manajemen pengecualian adalah teknik pengawasan yang memungkinkan hanya penyimpangan kecil saja antara kinerja yang direncanakan dan kinerja aktual yang mendapatkan perhatian dari wirausahawan. Sesungguhnya, manajemen dengan pengecualian didasarkan pada prinsip pengecualian, prinsip manajemen yang muncul paling awal pada literatur manajemen Prinsip pengecualian menyatakan bahwa bawahan menangani semua persoalan rutin organisasional, sementara wirausahawan menangani persoalan organisasional nonrutin atau diluar kebiasaan.

Walaupun isu-isu pengecualian tersebut mungkin diungkapkan ketika manajer itu sendiri mendeteksi adanya penyimpangan yang besar antara kinerja standar dan kinerja yang sesungguhnya, beberapa manajer menetapkan aturan khusus yang ditujukan pada dimungkinkannya isu-isu luar biasa untuk muncul kepermukaan sebagai persoalan prosedur operasi normal. Dua contoh dan aturan-aturan demikian adalah:

a) Manajer sebuah departemen harus dengan segera memberi informasi pada manajer pabrik apakah biaya tenaga kerja mingguan melebihi biaya tenaga kerja mingguan yang direncanakan dengan lebih dan 15 persen.

b) Manajer sebuah departemen harus dengan segera memberi informasi path manajer pabrik apakah pengeluaran aktual ditambah pengeluaran yang diperkirakan untuk dikeluarkan pada proyek tertentu melebihi dana yang disetujui untuk proyek tersebut dengan lebih dari 10 persen.

5. Analisa Pulang-Pokok (break-even analysis)

Penjelasan mengenai analisa pulang pokok telah dibahas pada bab sebelumnya dibagian awal. 

1) Analisa Rasio

Alat pengawasan pokok ketiga yang diliput pada bab ini adalah analisa-rasio. Rasio adalah suatu hubungan antara dua angka yang dihitung dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Analisa rasio adalah proses menghasilkan informasi yang meringkas posisi finansial dan organisasi dengan menghitung rasio yang didasarkan pada berbagai ukuran finansial yang muncul pada neraca dan neraca rugi laba organisasi. Bagian ini analisa rasio ini membahas (1) berbagai rasio yang tersedia bagi wirausahawan dan (2) penggunaan rasio rasio untuk mengawasi organisasi-organisasi.

Jenis-jenis Rasio

Rasio-rasio yang tersedia bagi wirausahawan untuk mengawasi organisasi biasanya dibagi menjadi empat kategori: 

rasio kuiltas, 

rasio leverage, 

rasio aktivitas, dan 

rasio profitabilitas. 

2) Penganggaran

Anggaran adalah rencana keuangan sekali pakai yang meliputi periode waktu tertentu. Anggaran organisasi adalah rencana keuangan yang menguraikan bagaimana dana pada periode waktu tertentu akan dibelanjakan maupun bagaimana dana tersebut akan diperoleh.

3) Penentuan Nilai kontribusi dan anggota-anggota organisasi pada proses produksi

Seperti yang di singgung sebelumnya, penentuan biaya penggantian dari anggota organisasi tidak selalu menunjukkan nilai total dari individu-individu terhadap organisasi. Untuk biaya penggantian ini harus ditambahkan nilai kontribusi total individu-individu pada proses produksi. Seperti halnya dengan sebagian besar literatur manajemen pada bidang ini, pembahasan berikut dipusatkan pada penentuan nilai kontribusi yang harus dibuat oleh wirausahawan pada proses produksi.

 6. Penggunaan Alat-Alat Pengawasan

Manajemen dengan pengecualian, contohnya, hanya membawa penyimpangan kecil dari kinerja yang direncanakan untuk mendapat perhatian wirausahawan Analisa pulang pokok dirancang terutama untuk mempertahankan hubungan yang sesuai diantara variabel fmansial penting dalam organisasi Melalui analisa pulang-pokok, wirausahawan bisa mengembangkan dan mengimplementasikan strategi pengawasan yang mencerminkan situasi yang ada berkenaan dengan biaya tetap, biaya variabel, dan harga jual dari produk. 

Analisa rasio dirancang untuk membantu wirausahawan mengevaluasi kemampuan organisasi memenuhi kewajiban hutang-hutangnya, taraf dimana hutang-hutang bisa digunakan untuk membiayai organisasi, kualitas kinerja organisasional, dan mengevaluasi tingkat keuntungan yang diperoleh dalam organisasi. Anggaran memberikan suatu rencana keuangan bagi organisasi maupun dasar bagi pengawasan organisasional dalam hubungannya dengan rencana ini. Masing-masing dari alat pengawasan tersebut memberikan informasi yang agak berbeda bagi wirausahawan mengenai bidang organisasional yang agak berbeda tetapi berhubungan. Jika digunakan secara spesifik bagi masing-masing tujuannya, alat-alat tersebut merupakan instrumen pengawasan yang sangat berharga.



Tag : Edukasi
0 Komentar untuk "PENGERTIAN MAKALAH PENGAWASAN DALAM MANAGEMENT"

Back To Top